Peramai hari

Ceritanya runtuh,

doanya luruh

hanya ada satu nama


kamu.


Bila waktu datang kembali

Kering darah yang ku pungut

Tetap kutitip risau pada rembulan

Saat sang langit juga merindukan


Sayang sekali,

Tuhan begitu cekatan mengambil kenangan 

Ragamu terlupa tak ku genggam

Dan ku terlupa tanganku semungil kuku hawa

Tak bisa menjamah, rembulan tenggelam disaat kamu di panggil langit


Lantas, bagaimana denganku?

Bukannya ini tidak adil? 

Aku cemburu pada Tuhan yang selalu dekat denganmu saat ini


Isak tangis terus mewarnai pemakamanmu sore ini

Di kelilingi bukit, rumput dan pohon-pohon sepertinya senantiasa menghantarkan kamu

Aku bersama buku kecil terus memandangi nisan yang elok dan masih nyata tintanya


" Jika pada akhirnya pupus dan musnah lantas mengapa Tuhan bangunkan nirwana rasa yang megah di dada ini "


Bila waktunya

Langit memanggilmu

pulang—tak bersisa bercak, aku memungut sisa darah hidungmu— wahai peramai hari

Jangan kau risau

Semesta bersamamu

Dan aku, pilu tanpamu 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perempuan dengan magisnya

i delete your pictures