Postingan

Perempuan dengan magisnya

Sejak bersenda gurau denganmu Kamu mahir memainkan kata demi kata Malam itu terasa sangat candu Perempuan dengan magisnya, nyaman bercerita  Rentetan waktu telah kita habiskan Seandainya kita bertemu di lain waktu Aku ingin banyak bercengkrama denganmu Tambah porsi kedua, ketiga entah memang sengaja agar bisa lebih lama dari biasanya Magismu meluluhlantakan persepsi tentang stranger  Tidak asik, terlalu kaku, berkomunikasi tidak nyambung  Nyatanya, kamu menepis semua stigma yang ada Teruntuk perempuan dengan magisnya, kamu istimewa  Tetaplah selalu menjadi yang memberikan kenyamanan Bukan karna kamu punya segalanya Bukan karena kamu impian setiap pria Melainkan, kamu perempuan pembawa pelita Menemani suka dan duka Penerang suram sukma 

Temu yang t'lah lalu

mungkin setelah kemarin  kamu sudah tak ada lagi dan akupun tidak akan menyebut namamu  dalam doa-doa di sepertiga malamku mungkin setelah kemarin, aku tak akan lagi bertanya-tanya tentang mengapa kamu melepaskanku  dan memberikan pilu yang luar biasa dan ternyata, naluriku tak bisa di paksa amnesia mencintaimu dengan kadar yang lebih besar dari cintamu kepadaku adalah hal merepotkan begitu menyakitkan maka setelah pertemuan kemarin aku akan berjalan sendirian  tidak ada lagi kamu dalam pikiran yang biasa aku taburi dengan kenangan inilah hidup yang nyata, Nona? " Terkadang kita mampu berjalan tegap, setelah ada seseorang yang membuat hati kita pengap "  

Peramai hari

Ceritanya runtuh, doanya luruh hanya ada satu nama kamu. Bila waktu datang kembali Kering darah yang ku pungut Tetap kutitip risau pada rembulan Saat sang langit juga merindukan Sayang sekali, Tuhan begitu cekatan mengambil kenangan  Ragamu terlupa tak ku genggam Dan ku terlupa tanganku semungil kuku hawa Tak bisa menjamah, rembulan tenggelam disaat kamu di panggil langit Lantas, bagaimana denganku? Bukannya ini tidak adil?  Aku cemburu pada Tuhan yang selalu dekat denganmu saat ini Isak tangis terus mewarnai pemakamanmu sore ini Di kelilingi bukit, rumput dan pohon-pohon sepertinya senantiasa menghantarkan kamu Aku bersama buku kecil terus memandangi nisan yang elok dan masih nyata tintanya " Jika pada akhirnya pupus dan musnah lantas mengapa Tuhan bangunkan nirwana rasa yang megah di dada ini " Bila waktunya Langit memanggilmu pulang—tak bersisa bercak, aku memungut sisa darah hidungmu— wahai peramai hari Jangan kau risau Semesta bersamamu Dan aku, pilu tanpamu 

Di hari kepergianmu

Kamu beranjak... Beberapa saat setelah aku melihat fajar Kamu menghapus jejak kita Setelah aku merakit sampan untuk mengarungi kehidupanmu Di hari kepergianmu.. Senyummu, adalah hal yang paling aku rindukan Lukisan milik sang putri raja yang paling indah Di hari kepergianmu.. Aku memeras air mata yang kusajikan dalam secangkir gelas saat perjamuan makan malam Untuk ku minum habis agar aku merasakan perayaan mati rasa Puisi-puisi telah kehilangan baitnya Aku telah kehilangan nyawa Dan kamu telah kehilangan sang raja Cerita kita t'lah jadi derita  Ini semua mungkin lebih sadis dari semua cerita romansa Kepergianmu kamu, meninggalkan tanda tanya yang sekaligus menganga Tapi kamu terkenang abadi Di hati ini kamu jadi juaranya Dalam remang, aku menjadi sunyi Dan kita tidak akan pernah lagi bercengkrama  

i delete your pictures

- someday, kamu akan menemukan tempat dimana hal hal kecil kamu di hargai - tidak ada yang lebih indah, selain menemukan seseorang yang cintanya setara dengan kita - karena sekuat apapun seseorang, adakalanya mereka ingin didengar, diberi dukungan dan ingin dipahami perasaannya - aku hanya sedikit ingin dirayakan aku tidak meminta ini dan itu berlebihan sesekali aku ingin dengar kamu berucap rindu  nyatanya itu semua palsu obatku letihku adalah bertemu kamu ketidakberdayaanku adalah bercengkrama denganmu tapi hanya aku yang bergembira sedangkan kamu, hanya berpura-pura - disuatu tempat, seseorang sedang mencari dirimu dalam setiap orang yang mereka temui

apa ia mengetahui ?

apakah gerangan yang hendak tuhan sampaikan? apabila dia mengirimmu hanya untuk membuatku jatuh cinta, aku rasa aku tidak memerlukan semua ini. bila hanya tuhan mengirimmu untuk duniaku, aku tidak membutuhkannya. aku hanya bertanya-tanya, kiranya apa yang akan terjadi bila hingga hari ini kita tidak pernah bertemu. bila aku tidak pernah membaca tulisan-tulisanmu. bila kita tidak pernah bertegur sapa, bersenda gurau. apakah tuhan masih baik untuk mempersatukan kembali hati yang tulus di kemudian hari?  

Rindu, Berisik !!

Ada yang berbisik mundur pelan-pelan, ada yang menggoda mengecap sedikit saja manisnya jalan pintas. Namun di sana Tuhan, mungkin di ujung sana. Ada yang tengah membasahi sajadah di sepertiga malam, mengadu perihal rindu. Aku tak mampu memastikan senyumannya pun wajah cantiknya tapi aku yakin pada setiap aksara yang kau tuangkan dalam surat pertamaku padanya. Bisakah aku percaya ? " Bolehkah aku mengajukan proposal jalan cerita yang aku tau telah kau takdirkan, Tuhan? Tidak Tuhan, aku tidak ada daya untuk mendikteMu, pun mengubah takdirMu. Tetapi, izinkan aku menyebut namanya dalam aduanku padaMu. Adakah dia disana bertanya tentang rasa yang sama yang sering kuceritakan padaMu? " Malam semakin kejam menikam, perasaan yang bergemuruh antara harap dan tetap menetap. Aku membisu, aku tak memiliki raganya. Tapi rindu ini rasanya nyata. Lalu aku tetap menyebut namaMu berharap hanya kau yang tau perihal rindu yang menggebu. Pada dia yang menyalakan harap kepadaku, tolong peluk pen...