Postingan

sampaikah padamu?

Rindu ini mengembara jauh, Menelusuri waktu yang panjang. Tak ada yang bisa menghentikan, Kecuali tatapan matamu yang tenang. Di setiap langkah yang kuambil, Ada bayanganmu yang terus menemani. Seperti bintang di langit malam, Kau selalu hadir tanpa pernah pergi. 

beranjak sebelum berpamitan

Ombak datang menghapus jejak, Tapak kaki yang kau tinggalkan. Pasir putih menyimpan kisah, Tentang perjalanan yang tak kembali. Angin laut menghembuskan sunyi, Seolah menyapa masa lalu. Namun jejakmu tetap tertanam, Dalam hatiku yang tak pernah lapuk. 

jauh dari mu

ruang menyusut, meninggalkan kamu dalam kenangan dan aku di luar melihat matahari terbenam, tapi angin bernapas lebih keras menerbangkan puisi-puisi namamu dalam ingatan, ke mana? tanyamu. aku sudah terlanjur beranjak sebelum berpamitan mungkin di suatu hari baik nanti, kamu akan menemukan aku aku tetap menuliskan namamu dalam puisi abadiku, tetapi tidak akan pernah kamu temui sebagai sosok nyata atau mungkin kamu memang tidak akan pernah melihatku sampai di titik terendahmu 

Perempuan dengan magisnya

Sejak bersenda gurau denganmu Kamu mahir memainkan kata demi kata Malam itu terasa sangat candu Perempuan dengan magisnya, nyaman bercerita  Rentetan waktu telah kita habiskan Seandainya kita bertemu di lain waktu Aku ingin banyak bercengkrama denganmu Tambah porsi kedua, ketiga entah memang sengaja agar bisa lebih lama dari biasanya Magismu meluluhlantakan persepsi tentang stranger  Tidak asik, terlalu kaku, berkomunikasi tidak nyambung  Nyatanya, kamu menepis semua stigma yang ada Teruntuk perempuan dengan magisnya, kamu istimewa  Tetaplah selalu menjadi yang memberikan kenyamanan Bukan karna kamu punya segalanya Bukan karena kamu impian setiap pria Melainkan, kamu perempuan pembawa pelita Menemani suka dan duka Penerang suram sukma 

Temu yang t'lah lalu

mungkin setelah kemarin  kamu sudah tak ada lagi dan akupun tidak akan menyebut namamu  dalam doa-doa di sepertiga malamku mungkin setelah kemarin, aku tak akan lagi bertanya-tanya tentang mengapa kamu melepaskanku  dan memberikan pilu yang luar biasa dan ternyata, naluriku tak bisa di paksa amnesia mencintaimu dengan kadar yang lebih besar dari cintamu kepadaku adalah hal merepotkan begitu menyakitkan maka setelah pertemuan kemarin aku akan berjalan sendirian  tidak ada lagi kamu dalam pikiran yang biasa aku taburi dengan kenangan inilah hidup yang nyata, Nona? " Terkadang kita mampu berjalan tegap, setelah ada seseorang yang membuat hati kita pengap "  

Peramai hari

Ceritanya runtuh, doanya luruh hanya ada satu nama kamu. Bila waktu datang kembali Kering darah yang ku pungut Tetap kutitip risau pada rembulan Saat sang langit juga merindukan Sayang sekali, Tuhan begitu cekatan mengambil kenangan  Ragamu terlupa tak ku genggam Dan ku terlupa tanganku semungil kuku hawa Tak bisa menjamah, rembulan tenggelam disaat kamu di panggil langit Lantas, bagaimana denganku? Bukannya ini tidak adil?  Aku cemburu pada Tuhan yang selalu dekat denganmu saat ini Isak tangis terus mewarnai pemakamanmu sore ini Di kelilingi bukit, rumput dan pohon-pohon sepertinya senantiasa menghantarkan kamu Aku bersama buku kecil terus memandangi nisan yang elok dan masih nyata tintanya " Jika pada akhirnya pupus dan musnah lantas mengapa Tuhan bangunkan nirwana rasa yang megah di dada ini " Bila waktunya Langit memanggilmu pulang—tak bersisa bercak, aku memungut sisa darah hidungmu— wahai peramai hari Jangan kau risau Semesta bersamamu Dan aku, pilu tanpamu 

Di hari kepergianmu

Kamu beranjak... Beberapa saat setelah aku melihat fajar Kamu menghapus jejak kita Setelah aku merakit sampan untuk mengarungi kehidupanmu Di hari kepergianmu.. Senyummu, adalah hal yang paling aku rindukan Lukisan milik sang putri raja yang paling indah Di hari kepergianmu.. Aku memeras air mata yang kusajikan dalam secangkir gelas saat perjamuan makan malam Untuk ku minum habis agar aku merasakan perayaan mati rasa Puisi-puisi telah kehilangan baitnya Aku telah kehilangan nyawa Dan kamu telah kehilangan sang raja Cerita kita t'lah jadi derita  Ini semua mungkin lebih sadis dari semua cerita romansa Kepergianmu kamu, meninggalkan tanda tanya yang sekaligus menganga Tapi kamu terkenang abadi Di hati ini kamu jadi juaranya Dalam remang, aku menjadi sunyi Dan kita tidak akan pernah lagi bercengkrama